CERITA BATU MENANGIS
Legenda Batu Menangis adalah cerita rakyat dari Kalimantan Barat tentang Darmi, gadis cantik namun durhaka yang angkuh dan pemalas. Ia memperlakukan ibunya yang miskin seperti pembantu, sehingga ibunya berdoa meminta hukuman. Akibatnya, tubuh Darmi perlahan menjadi batu, dan batu itu terus mengeluarkan air mata penyesalan.
Berikut adalah ringkasan cerita rakyat Batu Menangis:
1. Kehidupan Darmi dan Ibunya
Dahulu kala di sebuah bukit di Kalimantan, hiduplah seorang janda miskin bersama anak perempuannya bernama Darmi. Darmi memiliki paras yang sangat cantik, namun wataknya sombong, pemalas, dan manja. Ia tidak pernah mau membantu ibunya bekerja dan hanya sibuk bersolek setiap hari.
Dahulu kala di sebuah bukit di Kalimantan, hiduplah seorang janda miskin bersama anak perempuannya bernama Darmi. Darmi memiliki paras yang sangat cantik, namun wataknya sombong, pemalas, dan manja. Ia tidak pernah mau membantu ibunya bekerja dan hanya sibuk bersolek setiap hari.
2. Perjalanan ke Pasar
Suatu hari, mereka pergi ke pasar di desa bawah bukit. Darmi berjalan di depan dengan pakaian indah, sementara ibunya berjalan di belakang dengan pakaian compang-camping dan membawa keranjang. Orang-orang desa mengagumi kecantikan Darmi, namun bingung melihat wanita tua di belakangnya.
Suatu hari, mereka pergi ke pasar di desa bawah bukit. Darmi berjalan di depan dengan pakaian indah, sementara ibunya berjalan di belakang dengan pakaian compang-camping dan membawa keranjang. Orang-orang desa mengagumi kecantikan Darmi, namun bingung melihat wanita tua di belakangnya.
3. Tindakan Durhaka Darmi
Setiap kali ada yang bertanya, "Apakah itu ibumu?", Darmi dengan angkuh menjawab, "Bukan, dia adalah pembantuku!". Ibunya sangat sakit hati mendengar jawaban tersebut, namun ia terus bersabar. Setelah berkali-kali ditanya dan memberikan jawaban yang sama, sang ibu tidak kuat lagi menahan hinaan itu.
Setiap kali ada yang bertanya, "Apakah itu ibumu?", Darmi dengan angkuh menjawab, "Bukan, dia adalah pembantuku!". Ibunya sangat sakit hati mendengar jawaban tersebut, namun ia terus bersabar. Setelah berkali-kali ditanya dan memberikan jawaban yang sama, sang ibu tidak kuat lagi menahan hinaan itu.
4. Doa Ibu dan Kutukan
Ibu pun berdoa, "Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya. Berikanlah hukuman kepada anak durhaka ini!". Doa tersebut dikabulkan. Tubuh Darmi perlahan-lahan berubah menjadi batu mulai dari kaki hingga ke atas.
Ibu pun berdoa, "Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya. Berikanlah hukuman kepada anak durhaka ini!". Doa tersebut dikabulkan. Tubuh Darmi perlahan-lahan berubah menjadi batu mulai dari kaki hingga ke atas.
5. Akhir Kisah (Batu Menangis)
Darmi berteriak ketakutan dan menangis meminta maaf, "Ibu, maafkan aku! Tolong aku!". Namun, segalanya sudah terlambat. Seluruh tubuh Darmi akhirnya menjadi batu. Meskipun telah menjadi batu, batu tersebut terus mengeluarkan air mata, sehingga dikenal sebagai "Batu Menangis".
Darmi berteriak ketakutan dan menangis meminta maaf, "Ibu, maafkan aku! Tolong aku!". Namun, segalanya sudah terlambat. Seluruh tubuh Darmi akhirnya menjadi batu. Meskipun telah menjadi batu, batu tersebut terus mengeluarkan air mata, sehingga dikenal sebagai "Batu Menangis".
Komentar
Posting Komentar